Dito dan Namira – Jakarta

Yang abadi di tengah yang bersemi.

Sejak dulu, Namira memiliki ketertarikan khusus terhadap budaya Jawa. Doa yang ia panjatkan menjadi pertanda, bagaimana ia begitu ingin berjumpa dengan tambatan hati berbudaya sama. Hingga akhirnya semesta mempertemukannya dengan Dito, laki-laki yang kini menjadi tempat ia mengikatkan jiwa.

Darah Solo sama-sama mengalir di tubuh Dito dan Namira. Tebersit di kepala bahwa mereka ingin selalu mengingat akar. Dan begitulah mereka ingin cerita mereka abadi, di antara rasa yang kian bersemi. Salah satu ruang hening di Ibu Kota pun lantas dipilih menjadi tempat ‘tuk saling mengisi.

Dibalut dodotan dan kain khas Jawa, Namira bergerak dengan tenang dan syahdu, seolah mengilhami falsafah yang diwariskan para leluhur. Beskap yang dikenakan Dito menambah suasana njawani yang sederhana, namun tetap penuh makna. Bersama, mereka mencipta kesepadanan yang indah adanya. Seperti perwujudan Memayu Hayuning Bawono, jiwa dan raga yang dihiasi keindahan nan suci.

Suasana semakin khidmat saat Namira mulai menggerakkan tangannya. Telapak tangan menghadap ke depan, lantas ibu jari ditekuk ke dalam. Ngrayung, di antara sukacita dan asa yang kian melambung. Namira tampak lihai dan anggun dalam tarian itu, seakan tengah merayakan kebersatuan dua jiwa yang saling menyambut.

Dito memandangi setiap gerakan Namira dengan kedalaman rasa yang tulus adanya. Seperti anggrek putih yang ia genggam, sorot mata Dito memancarkan kemurnian. Pada detik itu, tiba-tiba jagat raya seolah berhenti. Hanya ada mereka saja, berdua dan saling mengarungi rasa.

Dan ruang hening itu telah menjadi saksi, mereka begitu selaras, dalam aliran rasa yang semakin deras.

 

KARYA SEBELUMNYA
KARYA SELANJUTNYA
tulis dan tekan enter